Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
SAYA TIDAK TAKUT NERAKA
"Tuhan merindukan dirinya yang ada pada dirimu, datanglah dengan kepolosan padanya"
Judul esai ini tentu membuat anda bertanya-tanya
bahkan tak menutup kemungkinan sebagian para pembaca bakal
mengernyitkan dahi atau sekedar berkomentar "gila" ini
orang. Maka dari itu sebelum anda berfikir macam macam pada saya,
mari saya jelaskan. welcome to wundderkammer.
Surga dan neraka adalah konsep yang di berikan
tuhan kepada manusia untuk menjalani kehidupan. Mereka yang berbuat
baik maka akan di beri surga dan mereka yang melakukan keburukan akan
mendapatkan neraka. Konsep yang sama berlaku pada pahala dan dosa.
Tetapi saya mempunyai sudut pandang lain tentang
hal ini, kalau semua konsep tadi hanyalah sebuah ujian atau cara
tuhan untuk menggoda manusia, apakah manusia tetap fokus pada
diri-NYA ? atau malah berpaling memikirkan surga, neraka atau pahala
dan dosa.
Bagi umat muslim tentu sangat familliar dengan
ayat inashalati wanusuki wamayahya wamamati lilahirabbil alamin.
Ayat yang selalu di dengungkan
oleh kaum muslimin dalam doa iftihtah saat shalat. Ayat yang
mempunyai arti sesungguhnya shalat ku, hidup dan matiku hanya untuk
allah tuhan seru sekalian alam. Kosekuensi dari ayat tadi sangatlah
besar jika kita bisa menghayati dan memakanainya. Bahwa apa yang kita
lakukan semua hanya untuk allah semata tidak
untuk yang lain. Atau kita mengucapkan nya hanya dengan kehampaan ?,
tanpa mampu memaknainya.
Sering
kita dalam pengucapan berkata bahwa kebaikan yang kita lakukan itu
lillahitaala, namun seringkali dalam hati masih kita berharap
mendapatkan surga. Kalau seperti itu bukan lilahitaala lagi namanaya
tapi jannahtitaala. Lillahitaala itu titik tanpa ada tapi, termasuk
tapi masuk surga atau tapi mendapat pahalai. Lilahitaala itu tanpa
harapan, tanpa pretensi , titik hanya karena allah, hanya berharap
ridhonya.
Dalam hal ini surga
menjadi ujian bagi kita sama seperti halnya neraka. Surga mengalihkan
fokus kita pada allah dan neraka memeluk ketakutan kita bukan pada
allah.
Untuk tulus itu memang
tak mudah. Ketika apa yang kita lakukan benar-benra hanya untuk
allah. Bahkan jika mau lebih “ekstrim” lagi, ketulusan tertinggi
ketika kita tidak apa-apa masuk ke dalam neraka asal allah ridho dan
memang kehendaknya. Itu malah lebih susah lagi, siapa yang mau
dibakar dalam neraka, saat sudah melakukan kebaikan begitu banyak ?.
Maka dari itu demi
belajar menjadi tulus dan ikhlas, lilahitaala. Saya bilang, saya tak
takut neraka karena yang saya takutkan allah, saya menginnginkan
surga tapi bukan itu yang menjadi fokus saya tapi allahnya. Artinya
saya itu tidak masuk surga tidak apa apa asal allah ridho, asal itu
kehendaknya allah.
SI MBAMBUNG #2
Hakikat Diri
Entah apa yang sedang dilakukan mbambung, dari tadi hanya duduk diam menatap kosong pada kolam ikan di depannya. Jiwanya seperti tidak sedang di tempat dan pikirannya seperti sedang berkelana entah kemana.
Gudel yang kebetulan lewat menyapanya, "hei mbung apa yang sedang kau lakukan ?"...
"Siapa mbambung itu ?"... tanpa mempedulikan gudel, mbambung masih menatap kosong pada kolam.
Gudel yang bingung dan heran bertanya ... "mbung kamu kerasukan yaa ? mbambung itu ya kamu ?"
"apakah aku benar-benar mbambung atau sedang memmbambung atau pura-pura mbambung?"
"siapa yang bisa memastikan kalau aku ini mbambung ? ".... dengan tetap tanpa mempedulikan gudel, mbambung terus menatap kosong pada kolam dan berbicara terus seperti orang yang sedang ngelantur.
"dahulu manusia sebelum diturunkan ke dunia sudah mengadakan perjanjian dengan tuhan, siapa namanya dan apa tugasnya dimuka bumi. Namun setelah manusia di lahirkan, mereka menjadi lupa apa yang telah disepakati. Disanalah titik pencarian dimulai".
"aku terlahir dengan naman mbambung, tapi apakah aku sudah mendekati nama itu sendiri ?, apakah aku telah menjadi mbambung yang sejati ?, mbambung yang sudah sesuai dengan kesepakatan tuhan ? , itulah yang sedang aku cari sekarang.
Mbambung kemudian berdiri, lalu kemudian menengok ke arah gudel dan bertanya "apakah kamu Gudel ? ", lantas beranjak pergi meninggalkan gudel yang terdiam bingung.
SI MBAMBUNG # 1
Menduakan Tuhan
Suatu hari mbambung sedang jatuh sakit di rumahnya, sudah berapa hari ini dia demam tinggi, mual, mencret yang tak kunjung henti, dan bebrapa komplikasi lainnya. Entah penyakit apa yang sedang di derita oleh mbambung.Karena kasihan para tetangga dan sahabat mbambung menjenguk di rumahnya, salah satunya adalah gudel dan cukrik. Mereka berdua hari ini menemui mbambung yang sedah tergeletak tak berdaya di kasur kamarnya.
"mbung ayo kuantar kau kedokter" ... gudel memulai pembicaraannya ke mnambung.
"dengan uangnya siapa aku ke dokter del ? uangnya mbah mu ta?"... dengan terbatuk mbambung menjawab.
gudel dan cukrik kebingungan menjawabnya karena mereka juga sama dengan mbangbung, hidup mereka sebatang kara dan tak ada uang, rumah pun masih beralaskan tanah beratapkan jerami.
"sudah, krik ambilkan saja aku air dan del, tolong ambilkan aku kembang tujuh rupa yang sudah kusiapkan di atas meja makan... mbambung memerintah membuyarkan kebingungan dari gudel dan cukrik.
Segera gudel dan cukrik memberikan apa yang mbambung minta.
"untuk apa itu semua mbung ?" tanya cukrik, gudel yang tadinya ingin bertanya hal yang sama, urung bertanya, hanya memperhatikan.
"ini untuk mengobati penyakitku " ujar mbambung sambil meminum air yang sudah di campur dengan kembang tujuh rupa
gudel dan cukrik saling berpandangan heran. Pikiran mereka penuh dengan pertanyaan.
"kalian pasti berfikir bahwa ini syirik ?" , seperti tahu apa yang difikirkan oleh sahabat-sahabatnya mbambung berbicara.
"apa bedanya memang obat yang di berikan dokter dengan air kembang tujuh rupa ini ?" ... gudel dan cukrik hanya terdiam, membiarkan mbambung berbicara
"tak ada bedanya keduanya sama-sama bisa menjadi perantara tuhan untuk menyembuhkanku" .
"Syirik tidak syirik bukan bergantung pada bendanya tapi pada niat kalian, pada hati kalian".
"Kalau aku kedokter dengan pikiran bahwa dokter itu dan obatnya yang akan menyembuhkanku, maka secara tak sadar aku telah menduakan tuhan, jadi syirik lah aku"
"dipikir yang menyembuhkan itu dokter sama obat nya ?, tidak yang menyembuhkan itu tuhan".
"dan tuhan sesuka-suka hatinya dia mau menyembuhkan dengan perantara apa, bisa lewat dokter, dedaunan ataupun air kembang tujuh rupa yang aku minum tadi"
"maka aku minum air tadi dengan kesadaran penuh, jika tuhan akan menyembuhkan ku, ini ikhtiarku, karena tak mampu untuk ke dokter"
"kita sering tak sadar sering menduakan tuhan, dengan uang, dengan ilmu, bahkan sampai dengan masjid pun tuhan kita duakan"
"lihat terkadang ada masjid yang di gembok ketika malam tiba, seakan-akan mereka yang menggembok sedang menuhankan masjid"
"dan ternyata kita masih belum mengerti ketauhidan"
lelah berbicara, mbambung batuk kemudian tertidur. Gudel dan cukrik yang terbengong-bengong mendengarkan mbambung bicara tadi, bergegas pulang takut mengganggu istirahat mbambung. Di perjalanan mereka berdua berbicara "edaaan si mbambung itu"
BERDAGANG DENGAN TUHAN
Sering kali kita berdagang dengan tuhan. Menghitung-hitung pahala dan dosa seperti mengkalkulasikan laba dan rugi. Saat saya memberi sekian maka tuhan akan memberi saya sekian. Bahkan seperti sudah di rumus bakukan dengan x-y = 700x
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Tapi kok ya rasa-rasanya tidak etis berhitung-hitung kepada tuhan yang telah mencipakan manusia dengan kasih sayangnya. Seperti menjadi makhluk yang tidak punya rasa terima kasih
Kita ini sepertinya sudah kehilangan rasa sungkan kepada tuhan. Padahal kepada manusia saja kita masih sering sungkan. Untungnya tuhan itu selain as-shabbur maha sabar, juga maha memaklumi. Jadi dia pasti bisa memaklumi segala kekurang ajaran kita. Termasuk kekurang ajaran kita mengkapitalisasi kan sedekah.
Saat bersedekah seringnya kita berhitung, masih lebih baik jika berhitungnya adalah pahala. Terkadang yang kita hitung adalah keuntungan materil duniawi. Ketika saya menyedekahkan sepuluh ribu rupiah dari dua puluh ribu uang saya, maka saya akan mendapatkan tujuh ratus kali sepuluh ribu rupiah dari tuhan. Sesuai dengan rumus x-y = 700x.
Sekali lagi itu juga tidak salah sama sekali. Saya yakin tuhan akan memakluminya bahkan mengabulkan segala kalkulasi kita. Tetapi menurut saya, mbok ya kalau berbuat baik ya berbuat saja, sedekah ya sedekah saja, jangan di embel-embeli dengan rumus ala ekonomi kapitalis. Yang bisa mengurangi niat dan ketulusan kita.Seperti saat bekerja ya bekerja saja jangan memikirkan untung rugi. Berbicara itu ketika negoisasi awal saja. Selebihnya adalah pelayanan yang baik untuk semua.