Laman

Entri Populer

My Great Adventure (Pendakian Gunung Merbabu)

Rabu, 19 Juni 2013
Posted by Unknown
"Di bawah langit berbintang
kita bertanya tentang kesederhanaan 
tanpa sadar kitalah kesederhanaan itu"
puncak merbabu dilihat dari sabana
Merbabu berasal dari bahasa sansekerta meru dan babu. Meru yang berarti gunung dan babu  yang berarti wanita. Entah kenapa masyarakat zaman dulu menamakannya seperti itu. Tetapi gunung ini lah yang akan menjadi cerita saya selanjutnya. Perjalanan yang berkesan. Penuh kesederhanaan , kenangan dan sempurna.

Sms Maut...
Jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Kesibukan masih tergambar di sebuah rumah di jalan gebang lor no 15 surabayaKoordinasi komisariat HMI sepuluh nopember surabaya ini masih terlihat sibuk. Tetapi itu bukan karena sedang ada rapat ataupun acara besar. Ini dikarenakan karena ada beberapa manusia-manusia penghuninya mondar-mandir mempersiapkan sesuatu. Benar, manusia-manusia itu adalah saya, Wildan (tebo), Dimas (jarjit) dan yadi. Kami sedang sibuk  mempersiapkan semua keperluan untuk mendaki. Kami akan mendaki gunung merbabu.

twitt... twitt... ciri khas suara hp ketika sms masuk. Sejenak Wildan melihat hp, ternyata suara tadi berasal dari hpnya. Tak berapa lama dia berbicara dengan saya tentang Sms yang dia dapatkan. Sms yang ternyata dari Ridhwan (gibal )  itu berisi "bo tunggu jangan di tinggal, Ada yang mau gw omongin . Waktu saya tahu isi sms itu, saya sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Ridhwan ini. "Dia pasti mau ikut"... pikir saya.

Apa yang saya pikirkan ternyata tidak salah. Tak berapa lama Sms dari Ridhwan terkirim kembali ke hp wildan. Sms itu berisi "bo gimana kalau gw, beji dan danar ikutan naik". Jeng... jeng... sambil tersenyum saya menjawab " sudah gw duga itu"

Pada akhirnya rombongan ini bertambah tiga orang. Jadi total nya ada tujuh orang yang akan berangkat. Selain saya , Wildan, Jarjit dan Yadi tadi. Ridhwan, beji dan Danar akhirnya melengkapi kami. 

Menuju Selo (Insiden Yadi )
Foto terakhir bersama yadi
Ada beberapa Jalur yang biasanya dilalui untuk mendaki gunung merbabu. Jalur Wekas, thekelan, cunthel dan selo. Dari pilihan-pilihan tadi kami memilih jalur selo untuk kami lewati. Alasannya utamanya karena akses kesana lebih mudah daripada jalur lainnya. 

Selo adalah sebuah desa di daerah boyolali jawa tengah. Jika dari surabaya harus 3 kali naik bus untuk sampai tujuan. Bus pertama adalah bus jurusan Surabaya - Yogyakarta, untuk kemudian turun di Kartasura. Dari Kartasura di lanjutkan menggunakan bis kecil menuju pertigaan boyolali. Terakhir barulah perjalanan dilanjutkan dari pertigaan boyolali ke selo menggunakan bis kecil juga. 

Dengan cara yang sama kami berangkat ke selo. Tepat pukul 04.00 WIB kami berangkat dari surabaya. Tak banyak yang bisa diceritakan dari perjalanan ini. Namun ada sedikit insiden kecil tetapi besar buat yadi. Dirinya harus kembali ke surabaya, di saat kami sudah menginjakan kaki di selo. Ya dia harus kembali karena sesuatu urusan yang tak bisa ditinggal. Sebenarnya kami sudah melobi pihak yang memegang urusan yadi ini, tetapi mereka tidak mau tahu dan tetap meminta yadi untuk kembali. Jadilah yadi kembali ke surabaya dan kami meneruskan perjalanan tanpa dia :( .

Pertemuan Tak terduga
Tak pernah ada yang namanya kebetulan, semuanya sudah direncanakan. Begitu pula dengan pertemuan kami dengan kelurga baru kami. Memang pertemuan yang tak terduga tapi seperti sudah direncanakan oleh Sang pemilik Langit dan bumi. Begitu banyak hikmah yang bisa saya ambil dari pertemuan ini. 

Waktu itu kami sedang menyantap makanan dipos pendakian yang sebelumnya kami beli di pertigaan boyolali. Berjalan dari tempat kami turun dari bis sampai di pos pendakian ternyata membuat kami kelaparan. Jalan yang naik-turun sepanjang 4 km, menyebabkan perut kami cepat kosongnya. Di saat itulah kami bertemu dengan keluarga baru kami. 

Keluarga baru kami terdiri dari 6 orang lelaki dan satu orang perempuan. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor. Berbeda dengan kami yang berjalan kaki. Setelah berkenalan, kami mengetahui mereka bernama Mbah sarap, Ryan (kami memanggilnya mbahdala), martha, frangky, Daus, febri dan seorang wanita bernama Shiddath. Terjalinlah keakraban antara kami dan mereka.

Pendakian Malam 
Setelah dirundingkan akhirnya kami akan melakukan pendakian sehabis shalat isya bersama dengan keluarga baru kami. Ini untuk kesekian kalinya saya mendaki pada waktu malam. Walau sebenarnya saya agak malas kalau mendaki malam. Karena saya tidak bisa melihat apa-apa, satu-satunya keuntungan kalau mendaki malam adalah perjalanan terasa dekat. 

Tepat pukul delapan malam kami bersama-sama dengan keluarga baru kami berangkat mendaki. Pendakian ini diisi dengan suara lonceng yang berbunyi dari tas carrier mbah sarap yang memang dipasangi lonceng. Juga cerita-cerita dari ryan alias mbadala dengan logat ngapaknya yang lucu. Dari mbadala pulahlah kami mendapatkan kosa kata baru kemekelan, yang berarti tertawa terbahak- bahak. Tetapi diplesetkan oleh kami dengan pegal-pegal.

Pendakian ini yang pertama untuk Beji dan Danar, sesekali nampak wajah kecapean dari mereka. Khusus untuk Danar dia mendapatkan keistimewaan. Sepanjang perjalanan dirinya diasuh oleh mba' shiddath. Dalam artian di tunjukan jalan mana yang harus dilalui. 

Mungkin karena gelap yang begitu pekat dan kurangnya pencahayaan. Terjadi Insiden kecil, Gibal terperosok ke dalam lubang. Lubangnya lumayan dalam hampir seluruh badannya tenggelam. Hanya menyisakan kepala dan tangannya yang memegang jalan. Saya yang tepat di belakangnya dan mbah sarap membantunya untuk keluar dari dalam lubang. Setelah itu perjalanan dilanjutkan. 

Merapi di waktu malam
Empat jam kami menelusup rongga-rongga malam, kami tiba pada tanjakan yang curam, berdebu dan berbatu. Saya menyebutnya tanjakan setan. Tanjakan ini benar-benar menguras tenaga. Tubuh harus merayap jika ingin terus melangkah. Debu yang sesekali membuat mata kelilipan, juga membuat langkah kami terhambat. Tetapi semangat yang sepertinya selalu hadir membuat kami mampu melewati tanjakan ini.

Setelah susah payah dan semua peluh sudah terkuras habis. Akhirnya kami tiba di ujung tanjakan ini. Di ujung tanjakan ini tedapat sabana yang terhampar dengan latar belakang puncak merbabu yang gagah. Kelap-kelip lampu perkotaan diwaktu malam pun terlihat dari sini, seirama dengan taburan bintang-bintang di atasnya. Terbayar sudah lelah kami tadi.

Di sabana ini lah kami mendirikan tenda untuk beristirahat. Ada kebodohan ketika kami akan mendirikan tenda. Satu tenda kami tidak terbawa covernya. Karena kami hanya membawa dua tenda, jadilah  satu tenda saja yang kami pakai untuk tidur dan tenda yang tidak ada covernya  untuk menaruh barang-barang. Walaupun nanti akhirnya kami tidur himpit-himpitan.

Segera setelah tenda berdiri. Saya langsung masuk, membuka sleeping bag lalu tidur, teman-teman yang lainnya pun  mengikuti. Keluarga kami pun sepertinya sudah selesai mendirikan tenda dan mulai menikmati mimpinya masing-masing. Kecuali mungkin Wildan dia tertidur di luar tenda.

Pagi di Merbabu
Sunrise dan G.lawu
Pagi menyapa bumi merbabu. Matahari mencuat dari balik gunung lawu di ufuk timur. Bersamaan dengan itu, saya terbangun dari tidur yang cukup membuat badan saya pegal-pegal karena sempitnya ruang tidur saya. Sejenak saya kumpulkan "nyawa" saya. Melihat sekeliling , teman-teman saya masih terlelap. Kacau sekali terlihatnya, kaki-kaki tersesat di kepala, badan yang saling tumpang tindih satu sama lain, pantas saja badan saya menjadi remuk.

Saya keluar tenda, meniatkan diri untuk shalat shubuh. Di luar tenda ternyata cukup ramai. Orang-orang sudah berkumpul untuk melihat sunrise, saya lihat Wildan juga ada diantara orang-orang itu. Pemandangan pagi di merbabu ini memang indah. Gunung merapi berdiri gagah di selatan merbabu, gunung lawu di timur nya, sindoro-sumbing berdampingan di sisi barat dari kejauhan juga terlihat gunung slamet. Serasa berdiri diantara para raksasa. Saya pun takzim dalam shalat saya.

Puncak Merbabu 
Pukul 09.00 tepat kami berangkat menuju puncak. Sebelumnya kami berdoa terlebih dahulu dan sedikit meneriakan yel-yel. "tim keong, yee " begitulah yel-yel kami hehehe.

Perjalanan dari sabana tempat kami ngecamp sampai puncak, membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Jalan yang di lalui tidaklah terlalu berat menurut saya. Sebelum sampai puncak merbabu kami  melalui hamparan sabana lagi, melipir pinggiran bukit dan Tanjakan yang cukup panjang sampai puncak. Puncak merbabu ada tiga. Yang pertama puncak triangulasi, puncak ketheng songo dan puncak syarif, dengan puncak tertingginya ada di triangulasi.

Singkat cerita setelah 2 jam tertatih-tatih berjalan akhirnya kami tiba di puncak merbabu,puncak triangulasi tepatnya. Saya mencapai puncak terlebih dahulu daripada teman-teman lainnya. Setelah secara berurutan wildan, gibal, jarjit , beji dan danar.  Ada kejadian yang unik saat beji mencapai puncak pertamanya. Semua orang yang ada di puncak sekitar 20 orangan, bertepuk tangan untuk dia. Tepuk tangan untuk beji... (plok...plok...plok )

Di puncak ada hal yang membuat kami tak bisa menampakan wajah lelah. Gadis kecil umur 5 tahun, yang tetap riang berlari-lari penuh energi, lah penyebabnya. "anak kecil aja kuat masa kita nggak"... itu isi pikiran kami saat itu.

Dari kejauhan, terlihat keluarga kami berada di puncak lain gunung merbabu. Mereka memang terlebih dahulu berangkat ke puncaknya daripada kami. Tak lama mereka di puncak. Selang beberapa lama mereka turun dan kami pun beranjak ke puncak ketheng songo.

Di ketheng songo ini kami bertemu 2 bule wanita asal cekoslowakia. Sepintas kami berkenalan, mengobrol sebentar dan berfoto bersama. Dari sana kami tahu ternyata mereka sudah 8 bulan menetap di semarang.
Gadis kecil yang tangguh


Merapi dilihat dari puncak merbabu


Foto bareng bule di puncak
foto keluarga
di balik awan

Di suatu malam...
Api unggun bergemeletak memecah dingin gunung diwaktu malam. Terlihat disekililingnya manusia-manusia berkumpul untuk mencari kehangatan yang diberikannya. Kehangatan cepat menjalar diantara mereka, tetapi bukan karena api yang menghangatkannya. Namun kebersamaan lah yang memberikan kehangatan itu.

Di antara api unggun
"apa itu sederhana ?"... Salah satu yang paling tua diantara mereka tiba-tiba nyeletuk. Diskusi pun berjalan, bermacam-macam jawaban keluar dari mulut mereka. Tanpa tahu bahwa merekalah kesederhanaan itu.

"apa yang dimaksud kenangan?, haruskah dihapus?"... pertanyaan kembali terlontar... Kembali obrolan hangat terjadi. Menghasilkan kesimpulan kenangan adalah bagian dari sejarah manusia, sampai kapanpun meskipun manusia mencoba untuk melupakannya. Kenangan akan kembali teringat.

Malam itu di merbabu, sungguh menjadi suatu malam yang penuh kenangan, penuh kesederhanaan. Malam yang terbalut oleh hangatnya persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. "Akankah saya temui malam seperti ini lagi di tempat lain?" Saya bertanya di dalam hati.

Perjalanan pulang
Diatas pick up
Pukul 16.00 WIB keesokan harinya. Kami sudah turun berada di tempat terakhir kali kami bersama yadi. Saat itu kami bersama dengan mbadalah, menunggu bis yang akan membawa kami ke terminal boyolali. Menit-menit berlalu, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya kami berembuk dan sepakat,untuk menumpang pick up yang akan turun ke bawah. Setelah itu Kami memberhentikan sebuah pick up untuk ditumpangi. Mbadalah dengan keahlianya, bernegoisasi dengan sang supir. Akhirnya didapati kesepakatan kami serombongan bayar Rp. 40.000,00 untuk bisa diantarkan sampai terminal boyolali. Pick up pun melaju membawa kami menuju tempat tujuan. Semakin lengkaplah perjalanan ini.

Pengalaman mendaki gunung merbabu adalah pengalaman yang tak terlupakan. Begitu banyak kenangan yang terjadi disana. Sambil menikmati angin semilir yang berhembus karena laju pick up. Saya berkata dalam hati " terima kasih kesederhanaan".

"sederhana itu adalah kalian
kenangan itu adalah saat bersama kalian
kesempurnaan adalah saat aku dilengkapi kalian"




Jika kau cinta

Jumat, 14 Juni 2013
Posted by Unknown
Jika kau cinta 
kenapa kau malah menahannya??
tak membiarkanya  bebas
mengepakan sayapnya 

Jika kau cinta
kenapa kau malah menangis  ?
kala dia menemukan bahagia
tetapi bukan karena mu

jika kau cinta
kenapa kau malah memaksanya ?
memaksa dia untuk mencintaimu
yang tak dicintanya

Di dunia ini sudah terlalu banyak
nafsu yang terbalut cinta
mengatasnamakan cinta
demi ambisi mu yang sesaat

sekali lagi jika kau cinta
seharusnya kau membiarkannya

Pembuktian teorema phytagoras

"Kuadrat hipotenusa segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat masing-masing sisi lainnya" 

Tentunya kalian tidak asing dengan teorema diatas. Benar dialah teorema phytaghoras. Teorema yang pertama kali diperkenalkan ke kita ketika masih sd. Selama ini kita hanya bisa memakai teoremanya saja. Tapi pernahkan terpikirkan oleh kalian bagaimana membuktikan teorema tersebut??. Mungkin sebagian besar dari kalian akan menjawab belum, atau mungkin lebih sinis lagi "ah buat apa kita susah-susah membuktikan? toh kita sudah enak tinggal memakainya". Hahaha... ya saya tidak akan mempermasalahkannya jika kalian berfikir seperti itu. Tetapi saya mengingatkan, berbahaya sekali mempunyai pemikiran seperti itu. Mempercayai sesuatu tanpa dasar yang jelas, mempercayai sesuatu dengan percaya buta. Bukan kah itu sama saja kita tidak mempunyai pijakan yang pasti ??? :). 

oke saya tidak akan berlama-lama, mari saya tunjukan pembuktian teorema tersebut. welcome to wunderkammer. 


Perhatikan gambar disamping. Kita mempunyai Segitiga ABC, Persegi APQB, TUAC dan SCBR. Tarik garis sejajar AP dari sudut siku-siku c, sehingga nanti akan memotong garis BA pada D. 

Jika BC = a dan CA = b maka kita bisa dapatkan bahwa :

Luas DEQB =  a^2
Luas APED  =  b^2

Lalu jika BA = c maka  :
Luas DEQB + Luas APED = Luas APQB , dimana Luas APQB = c^2

Seandainya kita bisa membuktikan luas DEQB dan luas APED , Kita bisa membuktikan teorema phytagoras dimana :
a^2 +b^2 = c^2

Pembuktian
kesebangunan segitiga akan membuktikan bahwa :
 lalu 
 


Hal  yang sama bisa membuktikan bahwa :





Dengan sendirinya Luas (i) + Luas (ii) = c^2 atau a^2 + b^2 = c^2   
Terbukti bukan teorema phythagoras. :) 


Menggali makna dari lagu dibalik awan peterpan

Kamis, 13 Juni 2013
Posted by Unknown

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPlCKO1HHXQ_0qHKhkClJEbgE_r6iezh-4lBP2-kvBqiwzdg_KtUZH5mT7-uF3MEghndWltlu2KhjxbqWIyEK4sKfL-pa29Sz4jSZ_LKhxPGdPSCq4QXYB-72ETb38XVWQu9FDE3MivjE/s400/23690_106127489414771_100000525628085_148417_4076494_n.jpgTempatku terdiam dibalik awan 
aku melihat dibalik hujan ...
tempatku terdiam, tempat bertahan 
aku terdiam di balik hujan...

Tentunya kita sudah familiar dengan sepotong lirik dari sebuah lagu di atas. Benar, itu adalah refrain dari sebuah lagu yang berjudul dibalik awan. Lagu yang di gubah oleh peterpan (sekarang NOAH) ini memiliki lirik yang tak biasa. Tak seperti lagu pada umunya, yang biasanya mempunyai makna yang jelas. Lagu di balik awan mempunyai arti yang mengambang. Tetapi memang itulah salah satu ciri khas dari musik peterpan.

Sejenak kalau di fikirkan lirin demi lirik , bait demi bait. Kita akan menemukan suatu pelajaran hidup di balik lagu ini. Seorang yang tak pernah bisa meraih apa-apa yang diinginkannya, seorang yang hampir putus asa tetapi pada akhirnya dia tetap bersabar. Makna seperti itu lah yang saya tangkap dari lagu ini. oke tak perlu berlama-lama , sambil meyuruput kopi anda dan mendengarkan lagunya. Saya akan menjelaskan interprestasi yang saya dapatkan di lagu ini.

Ku tak selalu berdiri 
terkadang hidup memilukan 
jalan yang kulalui 
untuk sekedar bercerita

Bait pertama dari lagu ini mengambarkan siklus manusia pada umumnya. Bahwa kehidupan memang tak akan selamanya ada di atas. Layaknya sebuah roda yang berputar, kadang di atas kadang dibawah.

Pegang tanganku ini 
dan rasakan yang kuderita
genggam tanganku ini 
genggam perihnya kehidupan 

Sosok aku pada bait kedua ini, menginginkan ada orang yang peduli padanya. Untuk setidaknya semua beban, derita dan kesedihan yang di tanggungya bisa terangkat sedikit. 

Apa yang kuberikan 
tak pernah jadi kehidupan 
semua yang kuinginkan 
menjauh dari kehidupan 

Bait ketiga lagu ini menuansakan keputusasaan. Bagaimana sosok aku ini telah mengerahkan apa yang dia bisa, sudah berusaha begitu keras. Namun tetap saja apa yang dia inginkan tak pernah jadi  keyataan. Yang di metaforakan dengan kehidupan.

Tempatku melihat dibalik awan 
aku melihat dibalik hujan 
Tempatku terdiam tempat bertahan 
aku terdiam di balik hujan 

Awan menggambarkan impian dan hujan menggambarkan harapan. Pada akhirnya aku tetap melihat impiannya. Dia tetap bertahan pada harapan yang selalu diteteskan hujan. Karena dia percaya selama ada awan pasti masih ada hujan yang akan meyertainya.   

 

Perjalanan menuju pantai impian ( sanggar beach )

"bukan indahnya lautan yang membuatku tertegun 
bukan pula awan yang berarak yang membuatku melayang 
tetapi perjalanan bersamamu teman membuat diriku selalu berlari"

Kisah ini sebenarnya sudah pernah di tulis oleh sahabat saya yang bernama Wildan, biasa di panggil tebo. Sudah cukup detail dia menceritakan perjalanan ini di blognya (http://semoetliar.blogspot.com/2013/03/ekspedisi-pra-proposal-edisi-arek-pantai.html). Tetapi sekarang saya mencoba bercerita dengan gaya saya sendiri. Tentu saya dan tebo mempunyai gaya yang berbeda terlebih tebo punya banyak bulu dan saya hampir tidak ada ( hehehehe ampunnn bo ). Ya sudah langsung saja, gak pake lama, silahkan membaca cerita saya. Semoga mata anda tidak lelah membacanya hehehe. 

Jejak Liburan 

Saya tidak tahu bagaimana mulanya,perjalanan ini bisa dimulai. Yang jelas saat itu aroma rumah masih tercium dari badan saya. Saya baru saja kembali ke kota surabaya dari rumah saya di bekasi. Ya jejak-jejak liburan akhir semester ganjil masih berbekas dibenak saya.  

Masih dalam keadaan lelah karena baru sampai. Seorang teman berkata pada saya "mik, ikut nyok kepantai sanggar" (saya lupa siapa yang mengajak saya, tapi kalo gak salah teman-teman saya yang satu kontrakan dengan saya). "wah boleh tuh, kapan berangkat?"kata saya balik bertanya. "Hari jumat bsk langsung cao " teman saya menjawab. "Siplah" Jawab saya singkat.

Sebenarnya saya tidak tahu dimana letak pantai sanggar, tapi kalo kata orang sunda mah "sabodo teuing" alias masa bodo. Dipikiran saya saat itu hanyalah "saya akan kembali bercengkrama dengan alam".

Baru beberapa hari setelah saya diajak untuk ikut, saya baru mengerti pantai sanggar itu terletak di tulungagung hehehehe.

Malam Keberangkatan

Jam tangan saya sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, tetapi tanda-tanda keberangkatan sepertinya belum nampak. Yah, memang rencananya kami akan lepas landas jam 7 malam, tetapi apa daya budaya jam karet kelihatannya masih sangat melekat di kami. Walhasil waktu keberangkatan molor 2 jam dari jadwal semula.

Perjalanan kali ini agak istimewa karena diikuti oleh 23 orang termasuk saya. Kendaraanpun juga cukup mewah tersedia 2 mobil avanza sewaan dan 4 motor yang bisa dipakai. Kamipun dibagi-bagi untuk mengisi kendaraan tadi. Inilah list para peserta yang mengikuti perjalanan impian ini :

-saya (Miko)
-wildan( Tebo)
-Arif (kirik)
-Ridhwan (gibal)
-Holiz
-Amar
-Nizar
-Kamal (imung)
-Kahfi
-Andi
-Dimas
-Edo
-Adit
-Zuhdi (beji)
-Hadi
-Danar
-Bayu (ganteng)
-Bayu (jarwo) 
-Warin
-Budi
-Aini
-Kurnia
-Tica

Untuk konfigurasi siapa-siapa saja yang ada dimobil dan di motor saya agak lupa, yang jelas saat itu saya berboncengan dengan imung memakai motor. Oh iya sedikit catatan kami harus bersusah payah dulu ke rumah jarwo untuk menjemput dia hehehehe.

Di jalanan ( dari kena tilang sampai melihat dinosaurus )

Selalu saja ada yang tidak terduga pada setiap perjalanan, tidak terkecuali perjalanan ini. Ada saja cerita, walaupun itu masih di jalanan. Dari saya yang kena tilang sampai saya yang melihat dinosaurus. Benar cerita yang bermula dari saya dan berakhir di saya pula hehehe.

Saya pacu motor saya di jalanan surabaya yang sedikit lowong. Terpaan angin malam tak membuat saya layu. Walaupun mengendara hanya dengan helm, kaos dan celana pendek seadanya. Pikiran saya fokus pada jalanan, terpatri pada satu tujuan yaitu rumah teman saya yang di tulungagung, teman saya itu bernama selpha. Memang kami berencana sebelum menuju pantai, kami beristirahat sejenak dirumahnya.

berfoto sejenak di SPBU
Saya berkendara cukup kencang. Sampai-sampai teman-teman saya yang menaiki mobil tertinggal di belakang saya. Di depan saya hanyalah teman-teman saya yang mengendarai motor juga. Sedang asyiknya saya memacu kuda besi ini, dikejauhan saya melihat ada razia sepeda motor. Saya lupa di daerah mana razia itu terjadi, yang jelas razianya ada di pinggir jembatan layang. Sebenarnya tidak akan menjadi masalah seandainya saya membawa lengkap semua perlengkapan berkendara. Namun kali ini saya sedang tidak beruntung, STNK dan SIM saya ada di mobil . .. Mati gue !!! kata saya dalam hati.

Dengan keadaan yang seperti itu , spontan saya meminta imung untuk bertukar posisi . Tetapi sialnya pertukaran itu ketahuan sama salah satu polisi yang sedang berjaga... ITU NGAPAIN!!! AYO MAJU!!! gertak nya. Saya cuma bisa nyegir kecut... "anjirr knpe juga tuh polisi ada disitu kagak kelihatan" gerutu saya lirih.

Ya akhirnya apa mau dikata kenalah kami razia. Teman-teman kami (saya dan imung ) sih sudah lolos razia.
Tetapi saya berkata pada polisinya... "pak tunggu lah sebentar STNK saya ada di mobil teman saya, sebentar lagi mereka muter balik pak"...
"loh seharusnya perlengkapan berkendara itu nempel di badan" ujar polisi itu sedikit mengintimidasi
"oh iya pak"... kapan-kapan saya pakein lem sekalian biar nempel kagak lepas-lepas... balas saya dengan becanda.
"ya sudah saya tungguin... tapi sini dulu kunci motornya, biar saya pegang"... kata  polisi mengalah.
Sembari turun dari motor , saya serahkan kunci motor kepada polisi tadi.

Sebenarnya ada sedikit keajaiban tadi waktu razia. Seharusnya SIM saya juga kena karena saya juga tidak membawa SIM. Tetapi imung dengan cerdas dan sigap menyerahkan SIM nya ke polisi. Entah karena wajah kami mirip, atau juga karena sedang gelap , atau mungkin juga mata polisinya yang rada error . Tanpa curiga dia percaya kalo itu SIM saya.. hahaha.

Ada juga sedikit insiden dengan polisi preman disitu. Insiden itu terjadi karena teman-teman saya yang memakai motor ternyata kembali menghampiri saya dan imung. Hal ini ternyata membuat risih polisi preman tersebut. (padahal mah polisi yang benerannya kagak nape-nape, dianya aja emang rada belagu pake bawa-bawa katana segala ... hahaha ).
Tanpa banyak bicara polisi preman tadi langsung membentak "NGAPAIN KALIAN DISINI?... UDAH SANA , SEPET SAYA LIAT MUKA KALIAN".
eh busyet dikata gw kagak sepet liat mukalu... kata saya tanpa suara. ya akhirnya teman-teman saya dengan tampang kesal beralih dari tempat saya dan imung berdiri.

Singkat cerita, setelah bermacam-macam kejadian tadi. Saya berhasil melewati razia. Kali ini dompet, saya kantongi untuk berjaga-jaga hehehe.

Setelah itu perjalanan berjalan lancar tanpa hambatan Hanya ketika kami memasuki daerah kediri ban saya bocor. Tapi masalah itu bisa segera diatasi, Di sini pulalah saya meminta imung untuk bertukar posisi. Karena ngantuk sepertinya mulai menguasai saya.

Motor terus melaju kencang di jalanan yang lenggang. Angin malam mulai membius saya, menawarkan kenikmatan untuk tertidur. Saya mencoba untuk tetap terjaga walaupun berat. Di tengah usaha saya untuk tetap terjaga ternyata malam memberikan saya halusinasi disepanjang jalan. Saya melihat dinosaurus-dinosaurus Zaman Triassic seperti T-rex, brontosaurus dan kawan-kawannya. Berkeliaran di pingir-pinggir jalan. Kaget memang saya, tetapi karena saya tidak dalam keadaan sadar seutuhnya saya masa bodo dengan itu, toh saya juga memang menyukai dinosaurus hehehe.

Yang tidak saya duga dan sadari adalah ternyata sang supir imung juga ngantuk. Ini menyebabkan kami berdua hampir saja jadi penyetan gara-gara hampir tergilas truk. Kejadiannya begitu cepat saya yang masih berhalusinasi kaget, mendengar suara klakson dan melihat sorot lampu jauh dari truk. Truk itu melaju dengan cepat ke arah kami. Beruntung imung segera tersadar dan berkelit pada saat yang tepat. Sejak saat itu kesadaran saya kembali, halusinasi saya tak kembali lagi, kantuk saya hilang. Memang shock terapi bener-bener tadi.

sesaat setelah kejadian tadi imung pun bercerita. Ternyata dia juga mengantuk dan berhalusinasi. Tetapi halusinasinya bukan dinosaurus seperti saya , dia berhalusinasi mengejar motor di depan kami tidak sampe-sampe. hadeuhh macam-macam saja hahaha.

Mendapat Teman Baru  

Waktu itu Saya sedang duduk-duduk di teras rumah Selpha, menikmati udara perdesaan. Lalu datanglah seorang wanita dengan rambut hitam memanjang, tubuh yang semampai tidak terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gemuk atau kurus semuanya proposional , wajah yang enak dipandang walaupun make up agak  berlebihan menurut saya. Waktu itu yang ada difikiran saya adalah "ini siapanya selpha ya??".

Saat itu saya lupa apakah saya memperkenalkan diri ataukah diperkenalkan oleh selpha ke teman-teman. Tetapi yang jelas akhirnya kami mengetahui kalau dia bernama ike.

Ternyata ike adalah teman SMA nya selpha (silahkan di kroscek kalau salah ) dia akan bergabung dengan rombongan kami menuju pantai sanggar.

Saya jadi ingat sebuah pepatah tentang sebuah perjalanan begini bunyinya :
" perjalanan tidak hanya akan membuatmu mengetahui dunia tetapi dia juga akan membuat kamu mendapatkan keluarga baru "... itu terbukti di perjalanan ini.

Menuju Tujuan 

Saya lupa tepatnya pukul berapa kami berangkat dari rumah selpha menuju pantai sanggar. Mungkin sekitar jam 9 an waktu itu. Yah kami siap berangkat setelah semua keperluan sudah disiapkan. Selain itu kami mendapatkan rombongan baru selain selpha dan ike tadi, ada juga kakaknya selpha yang bernama andi. kami memanggilnya dengan embel-embel "mas" di depannya. Terus teman-teman kami yang satu jurusan dan satu kampus juga ikut dengan kami. Mereka adalah Fauzi, Fendi dan ewing. Kebetulan rumah mereka juga di tulungagung. Dengan tambahan rombongan ini konfigurasi tempat duduk di mobil dan motor harus di atur kembali.

Di perjalanan kami menyempatkan diri mampir ke Indomaret. Disana kami membeli logistik untuk keperluan di pantai. Rencananya kami akan bermalam dan mendirikan tenda disana.Beji yang bertugas sebagai EO nya membeli sekardus aqua 1L yang berisi 12 botol  dan sekardus mie. Saya sempat berfikir sebenarnya " apakah 12 botol mencukupi untuk minum 23 orang anak ditambah lagi buat merebus mie ?" teman-teman yang lainnya juga sudah memberitahu ke beji ini. Tetapi dia meyakinkan teman-teman bahwa ini sudah mencukupi. Tetapi saya yang tetap tidak yakin akhirnya membeli 2 botol aqua 1L lagi untuk berjaga-jaga juga beberapa makanan ringan, sekedar untuk mengisi tenaga nanti.

Selepas dari indomaret kami melanjutkan perjalanan. Tidak banyak cerita sebenarnya di perjalanan ini. Paling-paling hanya cerita tentang jalanan yang ternyata rusak , menanjak dan berkelok. Bagi kami yang mengendarai motor saja jalanan ini cukup berbahaya, apalagi untuk yang mengendaarai mobil. Di perlukan keahlian mengemudi yang tinggi untuk melewati jalan ini.

Ada sedikit cerita juga dari dalam mobil yang ditumpangi oleh tebo Ketika kami di SPBU mengisi bensin. Hanya mobil yang di tumpangi tebo yang tidak mengisi bensin. Usut punya usut ternyata si empunya mobil yang meyakinkan bahwa bensinya akan mencukupi sampai pantai nanti. Namun melihat jalanan yang demikian, membuat keyakinan tadi berubah menjadi keraguan. Tetapi pada akhirnya mobil bisa sampai tujuan tanpa kekurangan bensin. hahaha
  

Lotek,lotek,lotek 

Nongkrong di warung lotek
Satu setengah jam kami ada di jalanan. Akhirnya kami tiba di sebuah rumah. Di rumah inilah kami menitipkan motor-motor dan mobil-mobil kami. Di depan rumah itu terdapat warung yang nampaknya menyediakan makanan juga. Jika dianalogikan dengan naik gunung, tempat ini seperti pos pendakiannya.

Teman-teman yang lapar memesan makanan di warung tadi, entah apa namanya kalo di jawa timur dan jawa tengah. Tetapi bagi saya dan teman-teman yang berasal dari jawa bagian barat menyebut makanan itu dengan LOTEK. Makan dan minum disini tidaklah mahal seperti yang saya kira, malah bisa dikatakan muran. Seporsi lotek yang kalo dirumah saya bisa seharga Rp.7000,00 disini hanya Rp.3000,00. Segar sari susu soda yang biasanya saya beli dengan harga Rp.2000,00 disini hanya Rp.500,00. Murah bukan ???

Perjalanan dengan kaki

Dari sini perjalananan dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu saya tadi tidak makan, takut mual atau sudukan di jalan. Walaupun lapar saya tetap menahan diri.

Sapi-sapi
Pertama kali kami akan memulai perjalanan kami disambut oleh sapi-sapi yang melenguh. nampaknya sapi-sapi itu punya warga sekitar. Sampai di kandang sapi ini jalan masih landai . tetapi sesudahnya ternyata kita harus menapaki bukit sampai puncaknya untuk bisa terus melanjutkan perjalanan.

Tanjakan di bukit tadi nampaknya memakan korban pertamanya,ada diantara kami yang ternyata muntah-muntah karena habis makan sebelumnya. Saya sendiri tidak tahu detainya karena saya ada di barisan paling belakang bersama imung dan aini.

Pantai ngalur 

kepulan awan di pantai ngalur
Setelah satu jam berjalan kami semua akhirnya sampai di pantai ngalur. Awalnya saya pikir pantai ngalur ini adalah pantai sanggar. Namun mas andi memberitahukan bahwa ini bukanlah pantai sanggar tetapi ini pantai ngalur. Pantai sanggar yang kami tuju ada di timur pantai ngalur.

Kami mendirikan tenda di pantai ngalur ini. Pantai yang menakjubkan buat saya dengan anginnya yang berhembus sepoi, pasirnya yang putih dan samudra hindianya yang menantang. Kami setelah mendirikan tenda bermain-main dengan ombak-ombak yang bergulung-gulung kompak. Sungguh indah sore itu .

Pantai Impian (pantai sanggar)

Dreamland
Sedang asyik bermain. Tiba-tiba mas Andi mengajak kami ke pantai sanggar. Beberapa teman memilih untuk tetap tinggal dan berfikir besok pagi saja baru mereka ke sana. Tetapi saya, warin, wildan , selpha dan kurnia (saya rasa masih ada beberapa lagi yang ikut tetapi saya lupa hehehe) memilih ikut ajakan mas andi.

Kami berjalan menyusuri jalan ke pantai sanggar. Ternyata cukup dekat jaraknya dari pantai ngalur  tidak sampai 15 menit kami sudah sampai. Di pantai sanggar ternyata memiliki sumber air payau yang hangat. Sumber air payau cukup nikmat untuk dijadikan pembasuh tubuh yang bertaburan garam air laut.

Pantai sanggar ternyata memang indah. Entah ada berapa banyak lagi keindahan yang ada di tanah ini yang belum saya lihat. Sambil melihat cakrawala saya berkata "aku bersyukur terlahir dari tanah ini". 

bersatu dengan alam, memahami pencipta

Berfoto sebelum berjalan
Sebuah nama, Sebuah cerita


Para pembajak sawah

Cover album
Bidadari-bidadari air payau


meski letih, tak pernah berhenti untuk melangkah
Tempat untuk berteduh
foto terakhir sebelum melangkah pulang

sanggar beach

Penutup 

Ada banyak cerita disini, ada banyak kenangan disini namun tak mampu saya untuk menuliskan semuanya. Tentang malam yang berbintang, tentang laut yang beriak, tentang nada-nada yang berdendang di sunyinya alam, tentang romansa yang terukir, tentang persahabatan yang tak berakhir, tentang hidup yang difikirkan. Semuanya itu tak mampu saya tuliskan, biarkan saja menjadi kesan bagi kalian yang merasakan.

"jejak-jejak yang kita tinggalkan disini 
mungkin hilang tersapu ombak
Semua suara yang kita dendangkan 
di malam berbintang 
pasti hilang terbawa angin
tapi kawan tahukah engkau 
gaung mu tetap abadi disini"